GEREJA MENJADI BERKAT, BUKAN KUTUK

 

 

Sidang Kerja Majelis Synode GBKP 21 sd 23 Oktober 2021 secara virtual : 

 GEREJA MENJADI BERKAT, BUKAN KUTUK



Mengingat situasi pandemi covid-19 masih perlu mendapat perhatian dengan melaksanakan protokol kesehatan, maka pelaksanaan SKMS 2021 GBKP dilakukan secara virtual, pada Kamis-Sabtu/21-23 Oktober 2021 diawali dengan ibadah dan pembukaan serta laporan umum Moderamen GBKP. Dalam khotbah dan kata sambutannya Ketua Umum Moderamen GBKP Pdt. Krismas Imanta Barus, MTh LM menekankan dan menegaskan kesadaran hamba Tuhan akan berharganya kesempatan sebagai kawan sekerja Allah untuk menjadi berkat bagi dunia, Kej. 1:26-28 mengingatkan dasar penciptaan manusia-segambar dengan Allah. Tema gerejawi sangat penting bagi GBKP. 2 Karakter Tuhan Barakhah = berkat, sifat melimpatgandakan jumlah, fungsi dan rasa membawa kebaikan bagi dunia. Gereja yang diberkati adalah Gereja yang jadi berkat mentransfer gambar/rupa Allah bagi generasi penerus. Memenuhi dunia dengan manusia yang segambar dengan Allah, bukan menjadi kutuk, yang menghentikan dan merusak segala sesuatu. Inilah dasar program dan kinerja GBKP di semua tingkatan, serta persiapan untuk memasuki tema 2022 Kreatif mengelola lingkungan.

Karakter Abodah/ibadah =  sifat melayankan diri bagi kebaikan orang lain. Melibatkan diri untuk kebaikan setiap waktu. Situasi covid-19 memaksa kita mendefenisikan kembali pernyataan kita. Ibadah sebagai karakter bukan kebiasaan belaka (Amsal 5:21). Ini memicu kesadaran umat untuk setiap hari menjadi berkat dan terang iman, dengan ungkapan 'for GBKP every day is Sunday' sehingga tidak ada sikap hidup yang terpisah dan terbelah antara panggilan iman dan keseharian yang berubah. Ibadah 24 jam jujur dan baik untuk kebaikan dunia. (Yoh. 4:21-24).

Allah telah membuka ruang kreasi dan inovasi, yaitu sikap yang dituntut dari kita menyiasati saat ini, membuka ruang-ruang cerdas dan kreatif bagi semua. Kasih Allah baru, inovasi baru setiap hari. Dalam situasi kacau Allah menata dan mencipta keteraturan (Kej. 1:1-4). Situasi sekarang bukan untuk dipermasalahkan, tapi panggilan untuk menjadi berkat. Kekacauan diubah menjadi peluang dan pembaharuan kehidupan, meneruskan karakter Ilahi dalam hidup Gerejawi.

Dalam dokumen pembahasan yang ada, kesadaran akan tantangan situasi covid-19 diingatkan bukan untuk mencari alasan, tapi justru untuk menguatkan pelayanan yang nyata ketengah kehidupan umat dan masyarakat. Panggilan tri-tugas gerejawi, sumber daya manusia, unit usaha, termasuk situasi keuangan yang defisit digumuli dan didoakan untuk mendapatkan solusi yang konkrit dan terukur, baik melalui upaya peningkatan pelayanan maupun rasionalisasi dan penghematan anggaran.

Gambaran laporan dan evaluasi yang menunjukkan adanya stagnasi pelayanan secara unit agar mendapat perhatian agar kinerja diperhatikan dan pendampingan Ketua Bidang masing-masing secara synodal.

Komentar